Pengalaman Wawancara [Lulus] One Shot Beasiswa LPDP 2021 Tujuan Kampus Luar Negeri

Mendaftar program beasiswa magister memerlukan persiapan yang matang termasuk beasiswa LPDP. Tahapan seleksi bisa saja berbeda setiap tahunnya tergantung kebijakan yang ditetapkan. Tahun ini, ada tiga tahap proses seleksi LPDP yaitu administrasi, substansi akademik dan wawasan kebangsaan, dan terakhir seleksi wawancara.

Setelah dinyatakan lulus tahap administrasi dan seleksi subtansi akademik, peserta akan mengikuti seleksi wawancara. Beberapa mengatakan kalau tahap ini merupakan tahapan yang paling sulit atau tricky. Interviewer akan menggali lebih dalam terkait apa yang sudah kita tuliskan dalam form aplikasi baik isian singkat maupun essay.

Alhamdulillaah ‘alaa kulli hal, Saya dinyatakan lulus seleksi wawancara beasiswa LPDP 2021 tujuan kampus Luar Negeri (LN). Di sini saya membagikan pengalaman tersebut. Semoga sedikit membantu teman-teman yang ingin dan atau sedang persiapan untuk melanjutkan studi menggunakan beasiswa LPDP.

Medium dan Sistem Wawancara

Pada tahun 2021, seluruh tahapan seleksi dilakukan secara online karena pandemi COVID-19. Tes wawancara diadakan melalui platform video komunikasi Zoom dengan sistem waiting room. Saya kebagian kelompok 30 dan waktu wawancara 15.00 WIB. Semua peserta diwajibkan bergabung dalam waiting room 2 jam lebih awal untuk antisipasi jika ada peserta yang tidak hadir sehingga waktu wawancara yang awalnya 15.00 WIB bisa saja menjadi 13.00/ 14.00 WIB. Gugup bukan main selama menunggu di waiting room. Hehehe Meninggalkan layar laptop untuk buang air kecil aja bikin gugup meroket dan over thinking (takut kejadian seperti teman saya, pas balik tiba-tiba interviewer sudah muncul) HAHA LOL

Jumlah Interviewer

Interviewer berjumlah sebanyak 2 orang. Berdasarkan pengamatan saya dan hasil browsing nama beliau, Bapak interviewer tersebut seorang akademisi (guru besar Fisika Universitas ternama di Indonesia) dan Ibu berambut panjang yang menggunakan kaca mata merupakan seorang psikolog.

Durasi dan Bahasa Yang Digunakan Ketika Wawancara

Berdasarkan hasil sharing dengan teman-teman grup mock interview 2021, durasi wawancara bervariasi tergantung interviewer mungkin sudah merasa cukup atau belum. Saya sendiri, wawancara berlangsung selama kurang lebih 30-45 menit. *Cenderung lebih singkat dibandingkan pengalaman wawancara offline di tahun-tahun sebelumnya, 1-2 jam (*informasi awardee).

Untuk tujuan kampus LN, beberapa teman saya ada yang diinterview menggunakan full Bahasa Inggris, full Bahasa Indonesia, dan ada juga yang campuran dari kedua Bahasa tersebut. Tipsnya adalah menjawab dengan Bahasa Inggris ketika diberikan pertanyaan ber Bahasa Inggris, begitu juga sebaliknya. Tentunya, persiapkan diri untuk segala kondisi.

Berkas Yang Perlu Disiapkan Ketika Wawancara

Saya sendiri mempersiapkan berkas-berkas pendukung untuk data yang saya input di form LPDP seperti portofolio yang dikeluarkan kampus, sertifikat, surat keterangan kerja sama, dan hal-hal detail terkait kampus tujuan dalam bentuk hard copy dan soft file. Korespodensi dengan calon supervisor juga perlu didokumentasikan jika sudah ada.

Selain itu, jika ada project dan bisnis yang sudah atau akan berjalan (pengalaman teman saya yang ambil MBA), segala hal detail yang berkaitan bisa dikumpulkan dalam satu berkas agar lebih mudah ketika diminta mempresentasikan.

Cukup menenangkan dan melegakan ketika kita sudah well-prepared dan tried our best, meskipun waktu itu selama wawancara saya tidak ada diminta untuk menunjukkan data pendukung. Itu juga bisa membuat kita tetap percaya diri selama wawancara.

Cakupan Topik Wawancara

Topik wawancara untuk tahun 2021 seputar akademik dan psikologis. Tidak seperti tahun sebelumnya yang terdapat topik wawasan kebangsaan.

Percakapan/ Tanya Jawab Ketika Wawancara

Sebut saja dua interviewer sebagai Bapak Hussein dan Ibu Maria (nama disamarkan). Pas Bapak Hussein membuka percakapan dengan sangat ramah, gugup saya perlahan sirna 😅

Bapak Hussein membuka percakapan. “Selamat siang Wahdah, ini benar yaa dengan Wahdah?”

“Bismillaahirrahmanirrahiim.” Saya mengucap dengan pelan sembari melempar senyum. “Iyaa, benar sekali Bapak. “

“Kenalkan saya Bp. Hussein dan Ibu Maria sebagai interviewer hari ini. Saya ucapkan selamat yaa Wahdah sudah lulus tahap seleksi subtansi akademik. “

“Alhamdulillaah, terimakasih Bapak Ibu untuk kesempatan hari ini. Semoga Allah selalu limpahkan kesehatan dan keberkahan untuk kita semua”

“Aamiin. Baik, sebelum memulai interview, saya akan membacakan 4 peraturan interview. Pertama, saya minta izin untuk merekam proses interview kita hari ini. Boleh ya Wahdah? “

“Boleh, Pak. ” Saya sambil mengangguk.

“Yang kedua, peserta tidak diperkenankan untuk mendokumentasikan proses interview dalam bentuk apapun. Yang ketiga, tidak diperkenankan untuk mengaktifkan hand phone. Wahdah sekarang jaringan internet menggunakan teatring hp atau WiFi? “

“Saya menggunakan teatring hp, Pak. ”

“Kalau begitu silahkan turn on hp untuk teatring dan pastikan tidak digunakan untuk aktivitas lainnya ya. “

“Baik, Pak. ” Saya sedikit menjauhkan hp dari laptop.

“Terakhir, untuk memastikan tidak ada orang lain selain Wahdah di dalam ruangan, silahkan putar kamera laptopnya 360 derajat. “

Saya memutar kamera laptop dari depan ke samping, belakang, dan balik ke posisi semula.

“Baik kita akan mulai interviewnya yaa, silahkan Wahdah perkenalkan diri menggunakan Bahasa Inggris. Describe about yourself and your activities.”

“Bismillaahirrahmaanirrahiim. First of all.. thank you for giving me this opportunity. And I hope both of you stay healthy in there. Well, my name’s Nurwahdah and you can call me Wahda who is not only a dreamer but also a fighter. I graduated from the oldest university in South Kalimantan, Lambung Mangkurat University…. Umm.. majoring in Chemistry and finishing my bachelor’s degree for about 3.6 years. During my college, although I worked as a freelancer to support my financial aid, I was still able to contribute actively to both academic and non-academic activities… such as following conferences, writing papers, contributing to some organizations, leading events, and starting my mini business. After having an experience in the laboratory as a research assistant to carry out research project and write a book, I have worked as an analyst in the environmental laboratory since January 2021.”

“How about your parents? “

“My mom graduated from PGA (Pendidikan Guru Agama), and she decided to fully dedicate herself for family’s life after marriage. My daddy works as a farmer who is sometimes aided by my mom to plant food crops and other plants. Besides, he has taught willingly about religion like Tajwid, Fiqih, Tauhid, and Tasawwuf for Muslim/Muslimah every Monday and Friday in my parent’s house since his teacher gave an Amanah to teach before he died about 15 years ago.”

“Do you have brother/ sister? And do they also pursue a college degree? ”

“I have 2 big brothers who finished an education in the Islamic Boarding school. Unfortunately, they didn’t go to college after taking senior high school equivalency. The one is a teacher and a farmer as well. My first little brother went to the University of Lambung Mangkurat.. Umm..majoring in chemical engineering. Sadly, he decided to take a break from this university after a flash flood destroyed all of my family’s plantation in January 2021 which was ready to be harvested very soon. Then, He’s considering going to another university. My last little brother is studying in Islamic Boarding school as well.”

“So, you are the only daughter and also the first one in your family who will pursue a master’s degree? “

“Yes, I am. “

“Baik.. Kampus tujuannya di Luar Negeri ya, Ada Imperial College London, UCL, dan Kyoto University. Kenapa Wahdah memilih 3 kampus tersebut? “

“Saya telah melakukan riset di beberapa Universitas terkait course yang ditawarkan dan fokus riset di Univ tersebut. Akhirnya.. diantara semua Universitas, saya menemukan bahwa MRes Green Chemistry, Energy, and Environment di Imperial College London, MSc Material for Energy and Environment di UCL, dan Applied Chemistry for Biomass Conversion di Kyodai merupakan yang paling cocok dengan apa yang saya cari di program master. Pertama, learning outcomes dan courses yang ditawarkan seperti Sustainable Chemistry, Renewable Energy, and Advanced Catalysis di Imperial College London; Advanced Topic in Energy and Environmental Science di UCL; dan Biomass Conversion into Energy, Green Chemistry, Bioethanol Production di Kyodai sangat menunjang untuk mengembangkan basic knowledge yang udah dimiliki dan skills yang dibutuhkan untuk menjadi seorang peneliti. Kedua, learning dan teaching methods seperti lecture, seminar dari berbagai industri yang bekerja sama dengan Univ, journal club, dan indendependent research project tidak hanya memperluas ilmu secara teori dan praktik tetapi juga meningkatkan kemampuan saya dalam melakukan riset. Ketiga, topik riset di kelompok penelitian tersebut in line dengan riset yang sudah dan akan saya lakukan. Terakhir, saya tertarik untuk bergabung dengan kelompok riset Dr. Agniezka yang mengembangkan riset ultra-low cost bioethanol sejak lebih dari 10 tahun lalu. Sehingga dengan keilmuan tersebut saya bisa berkontribusi untuk membangun Indonesia khususnya di bidang riset energi terbarukan. ”

“Oh Wahdah sudah menghubungi calon supervisor di Imperial College London? “

“Saya belum menghubungi calon supervisor di ketiga Univ tersebut dan.. saya merencanakan untuk melakukan correspondence setelah dinyatakan lulus seleksi wawancara LPDP, pak. “

“Program magisternya nanti by course atau research? “

“Program di ketiga Univ tersebut merupakan master by taught. Di UCL dan Kyodai, perbandingan kredit antara lecture dan research 50:50. Meskipun master by taught, program MRes di ICL mempunyai kredit lebih banyak untuk melakukan independent research project selama kurang lebih 9 bulan.

“9 bulan kira-kira cukup engga Wahdah untuk menyelesaikan research? “

Dengan mantap saya menjawab. “InsyaAllah cukup, Pak. Berdasarkan kinerja saya di masa lalu, dengan fasilitas lab kampus saya yang terbatas, saya mampu mengerjakan 3 penelitian di waktu yang bersamaan selama kurang lebih 5 bulan terhitung dari September 2018 – Januari 2019. ” Pokoknya selalu awali dengan sesimpul senyuman dan lanjutkan dengan penuh percaya diri untuk meyakinkan interviewer Awkwk 😁

“Publikasi paper nya lumayan banyak juga yaa Wahdah. ” Beliau seperti sedang membaca CV saya.

“Alhamdulillaah, Pak. “

“Boleh diceritakan penelitian yang Wahdah lakukan selama S-1? “

“Pengalaman penelitian pertama yang saya lakukan bersama tim MIPA Science Project 2017 adalah Produksi Xylitol dari Biomassa Alang-Alang Menggunakan Candida tropicalis. Selama satu bulan penelitian yang dikerjakan di sela-sela kuliah, kami melakukan riset sampai tahap hidrolisis menggunakan asam sulfat, mmm.. Proses konversi menjadi Xylitol tidak sempat dilakukan karena waktu yang terbatas. Selama tugas akhir, saya mengerjakan 3 penelitian. 1 penelitian dosen saya yaitu analisis komponen kimia kayu sampel Purun Tikus. 1 penelitian tambahan untuk publikasi yaitu Hydrothermal Pretreatment of Metroxylon sagu Fronds Assisted by CaCl2 To Increase Reducing Sugar Production. Hasil yang diperoleh tidak sebagus hasil penelitian utama saya, The Effects of FeCl3 on Hydrothermal Pretreatment of Oil Palm Fronds To Enhance Reducing Sugar Production. Kedua penelitian tersebut fokus pada tahap pretreatment untuk melarutkan komponen lignin dan mendapatkan selulosa yang kemudian dikonversi menjadi gula pereduksi. Gula tersebut dapat difermentasi menjadi bioetanol. Saya tertarik untuk mengembangkan riset Ultra-low cost bioetanol from Lignocellulosic Biomass.

“Bioetanol itu yang dari buah kelapa sawitnya bukan?”

“.. Umm bukan, Pak. Kalau buah kelapa sawit yang diolah menjadi minyak goreng dapat digunakan sebagai sumber bahan baku biodiesel. Sedangkan bioetanol dapat diproduksi dengan memanfaatkan limbah biomassanya, Pak.. Seperti tandan kosong dan pelepah kelapa sawit. “

“Ooh, bedanya tandan kosong dan pelepah kelapa sawit apa? “

“Tandan kosong kelapa sawit atau biasa disebut TKKS mmm merupakan limbah biomassa hasil panen setelah bagian buah dipisahkan dengan tangkai penyatu buah. Kalau pelepah itu bagian yang ditempeli daun dan biasanya dipangkas pada waktu tertentu..” Saya agak sedikit kesusahan untuk menggunakan kata-kata yang tepat. Hehe

“Kenapa Wahdah tertarik untuk mengembangkan riset bioetanol? “

Pertanyaan tersebut mirip-mirip dengan pertanyaan apa urgency dari topik penelitian atau program master yang akan kita lakukan masih relevant untuk ke depan.

“Salah satu issue penting yang sedang dihadapi Indonesia di bidang energi dan lingkungan adalah krisis bahan bakar fossil dan meningkatkanya emisi karbon dioksida yang menyebabkan climate change dan global warming. Salah satu strategi yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memanfaatkan energi terbarukan secara bertahap seperti menggunakan campuran bensin dan etanol yang dapat menurunkan emisi karbon/ lebih ramah lingkungan. Indonesia punya target untuk launching E20 dan E50 pada tahun 2025 dan 2050. Dan punya komitmen untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060. Sedangkan sampai sekarang tidak ada laporan untuk konsumsi bioetanol sebagai bahan bakar meskipun KESDM telah mengeluarkan kebijakan untuk menggunakan E5 (5% etanol) sebagai campuran bensin di tahun 2020. Kendalanya adalah harga ethanol yang masih mahal sebagai campuran BBM yang mungkin menyebabkan investor ogah buat investasi karna imbalance antara investment dan revenuenya. Untuk mengatasi hal tersebut, Pertamina – perusahaan energi nasional – melakukan inisiasi untuk launching A20 yaitu alkohol 20% yang terdiri dari 15% metanol dan 5% etanol. Sayangnya, kandungan metanol dalam bensin tersebut menyebabkan kebisingan dan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi meskipun menurunkan emisi. Di sinilah saya sebagai seorang chemist memegang perananan yang kritis bagaimana caranya produksi low-price bioethanol khususnya dari limbah biomassa yang tidak bersaing dengan bahan bahan pangan. Tantangannya untuk aplikasi produksi bioetanol dari limbah biomassa adalah tingginya biaya pada proses pretreatment (40%) dari keseluruhan biaya produksi. Sehingga saya tertarik untuk mengembangkan riset ultra-low cost ionic liquid yang dapat menghasilkan proses preareatment yang menguntungkan secara ekonomi. ” Saya berhasil menjawab dengan sangat excited (saran yang diberikan dosen saya, miss Ami pas mock interview). Yeay !!

“Wahdah dari Banjarmasin, Banjarmasin itu Kalimantan Tengah yaa? “

“Banjarmasin.. Ibu kota Kalimantan Selatan, Pak. ”

“Apakah hasil penelitian Wahdah nanti bisa diaplikasikan di Kalimantan Selatan? “

Honestly, saya tidak ada menggali lebih dalam untuk aplikasi hasil riset saya di Kalimantan Selatan nanti. Jadi, kurang maksimal dalam menjawabnya xixixi

“Untuk bisa diaplikasikan dalam industrial scale up di industri kelapa sawit Kalimantan Selatan tidak bisa mengingat belum ada biorefinery terintegrasi, perlu tahapan yang cukup panjang setelah berhasil menemukan metode produksi bioetanol yang terjangkau dan ramah lingkungan dalam skala lab. Scale up bertahap dari 1 L, 3 L, 5 L, dan seterusnya. ”

Alangkah baiknya kalau kita menjawab dengan bahasa yang lebih sederhana karena kita sedang berbicara dengan seseorang di luar bidang kita.

“Kalau scale up perlu membuat start up dulu atau bagaimana? “

“Kalau scale up dari skala lab ke pilot plan bisa saja dilakukan di laboratorium seperti Baristand Banjarbaru untuk wilayah Kalimantan Selatan, Pak. Mmm membangun start up bio refinery seperti bioetanol dari limbah biomassa perlu dilakukan suatu saat nanti ketika tidak hanya berhasil dari aspek green chemistry tetapi juga tech economy nya, Pak. “

“Limbah biomassa yang paling potential di Kalimantan Selatan untuk dijadikan bahan baku bioenergi apa Wahdah? “

“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Prov Kalimantan Selatan, kelapa sawit merupakan salah satu sektor komoditas perkebunan terbesar di KalSel yang menghasilkan limbah tandan kosong dan pelepah kelapa sawit masing-masing sekitar 5 juta ton/hektar. Sehingga limbah tersebut bisa menjadi bahan baku yang sangat potential, Pak. “

“Skill writing Wahdah sudah cukup bagus, tapo boleh engga saya kasih masukan? “

“Wah boleh banget, Pak. Dengan senang hati, silakan.. “

“Satu hal yang perlu ditingkatkan lagi yaitu skill speakingnya yaa terutama pronunciation. Karna Wahdah nanti kuliahnya di negara native speaker, biasanya lebih susah dibandingkan kita mendengarkan non-native speaker. Gitu yaa Wahdah.”

“Baik, terimakasih banyak yaa Pak untuk masukannya. “

“Iyaa, sama-sama. Dari saya sudah cukup. Selanjutnya silakan Ibu Maria. “

Percakapan kemudian dilanjutkan dengan seorang Psikolog.

“Wahda sudah berpenghasilan sejak kuliah ya, dan meskipun kerja aktivitasnya tetap bisa balance antara akademik dan non akademiknya.”

“Iyaa, alhamdulillaah Bu. ” Saya tersenyum sekilas mengingat apa yang sudah saya usahakan.

“Terus kekurangan Wahda kan perfeksionis, berdasarkan hal apa kamu menganggap dirimu perfeksionis? ” Pertanyaan yang cukup mengintimidasi, tetapi tetap stay cool bagaimanapun interviewer memberikan pertanyaan.

“Baik, terimakasih Ibu atas pertanyaannya. Ada beberapa parameter sehingga saya termasuk seseorang yang perfeksionis seperti memperhatikan sesuatu dengan detail atau memperhatikan hal-hal detail. Menulis dokumen berulang kali to make it perfect. Membuat to do list, rencana bulanan dan tahunan beserta resiko dari apa yang saya rencakan. Berlebihan mengkritik diri sendiri terutama ketika tidak mencapai target. Dan Saya menjadikan target itu sebagai parameter keberhasilan dan kemajuan. “

“Pernah gak Wahda, kamu gagal mencapai target? “

“Pernaah, Bu. “

“Dalam hal apa Wahda? “

“Pada tahun 2020, Saya gagal mencapai target skor TOEFL ITP 580.”

“Berdasarkan hal apa sih Wahda menetapkan target? “

“Saya menetapkan target berdasarkan kemajuan di tahun sebelumnya. Pada January 2018, starting point saya <400 (sekitar 390).. dan setelah satu bulan belajar intensive di Kampung Inggris.. Skor sy meningkat menjadi 460. Di tahun 2019, skor official test sy 490. Saya perkirakan 2020 bisa menaikkan skor jadi >550. Saya terus latihan dan latihan menggunakan timer dan answer sheet, tapi kesalahan saya waktu itu tidak melakukan weakness analysis terhadap masing-masing skills seperti yang saya sebelumnya, misalnya adjective clause skill. Lebih baik kalau waktu itu saya analysis dan kemudian fokus meningkatkan kemampuan skills tersebut. ”

“Apakah pernah sifat perfeksionis kamu berdampak negatif selama ini?”

“Pernah dan dampak negatifnya lebih ke sisi personal seperti perasaan tertekan jika belum memberikan yang terbaik. Contohnya seperti tertekan ketika menulis buku bioetanol sementara saya mengerjakan project utama yaitu penelitian mencari mencari metode terbaik untuk isolasi nanoselulosa. Saya stressful karena fokus sama hal detail dalam substansi tulisan. Menurut saya substansinya bisa lebih baik kalau beberapa paragraf diperbaiki lagi meskipun menurut supervisor saya itu sudah cukup. Untuk mengurangi perasaan tertekan tersebut, saya belajar untuk mengajari diri sendiri bagaimana caranya mengontrol emosi. “

“Loh gimaana Wahda cara kamu mengajari diri sendiri? “

“Pertama, saya mencoba melihat dengan sudut pandang berbeda dan kemudian melakukan self-talk. Meskipun kamu belum mencapai target atau not achieve something big or significant, for me, you are successful cause you didn’t give up. It’s okay Wahda. Tidak memperbaiki beberapa tulisan tersebut berulang kali bukan berarti kamu don’t try your best. You have tried your best along your busy schedule. Wahda punya kesempatan menulis buku ilmiah lebih awal dan artinya itu juga kesempatan untuk belajar sehingga lebih siap di kesempatan berikutnya. Kedua, melihat “big picture“. Saya bertanya pada diri sendiri does rewriting some paragraph really matter? Sedangkan tulisan itu sudah acceptable dan understandable. Sudah cukup ya, Da. Kamu bisa mengerjakan prioritas yang lain. Dua tips ini cukup membantu diri saya untuk menurunkan tekanan, Bu. “

“Apa sih pengalaman terberat/ titik terendah dalam hidup kamu yang menjadikan Wahda sekarang? “

Saya menghela nafas terlebih dahulu dan memberikan senyum kemudian memulai.

“Pengalaman terberat yaa.. Secara garis besar, ada dua perjalanan yang membentuk saya sekarang. Pengalaman hidup semasa kuliah mengajarkan saya tentang time management dan bagaimana mengatur prioritas diantara banyak kepentingan sesuai tujuan. Saya bekerja sebagai seorang freelancer untuk support ikut course dan pengembangan diri krn uang beasiswa pas-pasan untuk dialokasikan membayar sewa tempat tinggal dan membeli kebutuhan pangan selama sebulan. Untuk membeli buku dll, diperlukan income tambahan. Yaa meskipun begitu, saya belajar untuk bisa aktif berkontribusi baik bidang akademik maupun non akademik dengan berbagai achievement. Dan yang utama, perjalanan yang mengajarkan diri saya bahwa selalu ada jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh. Atas izin Allah. Ketika saya mengambil keputusan sekolah jauh dari orangtua setelah lulus SD, saya pernah mengayuh sepeda selama satu jam untuk sampai ke sekolah SMA. Pernah suatu ketika.. Cuacanya panas sekali, saya kecapean dan ketiduran sesampai di rumah nenek, suami tante saya membentak dan memarahi. (Sedangkan ayah saya selalu mendidik dengan memberi contoh lewat sikapnya dan memberi tahu dengan ramah). Saya menangis sesenggukan di kamar dan menyalahkan keadaan. Seandainya saya x, y, atau z.. Saya tidak akan seperti ini. Tapi berandai-andai dan banyak bicara tidak akan mengubah dan menyelesaikan apapun. Apapun yang terjadi waktu itu sudah resiko dan tanggung jawab saya memutuskan sekolah di tempat yang menurut saya punya kualitas yang lebih baik. Saya berdamai dengan situasi dan melihat apa yang ada dalam diri. Saya punya mimpi, potensi, tujuan, dan kesungguhan dalam dada. Therefore, DO SOMETHING, Wahda. Ini yang membuat saya tidak hanya terus bergerak berdampak tetapi juga grow up meskipun dalam badai. ” Saya menyampaikan dengan lembut namun kuat. Tentu kembali dengan senyuman setelah kata badai. Dan kedua interviewer juga melemparkan senyum.

Pertanyaan “titik terendah/ terberat” sepertinya pertanyaan yang sering muncul di interview LPDP. 3 teman saya juga mendapatkan pertanyaan tersebut. Mungkin kita sedang berada dalam “difficult situation“. Misalnya breaking up with your partner, dalam proses healing setelah broken heart atau sedang dalam hurtful situation lainnya. Tapi usahakan jawaban yang diberikan adalah jawaban yang membuat seseorang berpikir untuk memutuskan investasi pada diri kita.

“Ibu, saya minta izin untuk minum sebentar boleh?”

“Boleeh bangeet, Wahda. Silakan. Daripada kamu nanti serak. ” Ibunya tertawa. Begitupun saya dan Pak Hussein.

“Kalau teman-teman kamu lanjut kuliah juga gak Wahda? “

“Semua teman saya yang kelurganya punya privilege secara finansial melanjutkan kuliah. Sedangkan, 2 teman saya yang bisa dikatakan kurang beruntung dalam hal itu tidak, Bu.”

“Kenapa Wahda mereka tidak kuliah? Apakah mereka gak tau kalau ada beasiswa? “

“Mmm setiap orang punya reason masing-masing.. Bisa jadi pertimbangan dari dalam dirinya, support keluarga, ataupun kondisi lainnya yang belum memungkinkan waktu itu. Pihak sekolah madrasah aliyah saya dulu aktif memberikan sosialisasi terkait beasiswa. Sebagai temannya, saya tentu belajar memahami kondisi dan menghargai keputusannya. “

“Wahda jurusan Kimia murni atau pendidikan?”

“Kimia murni, Bu.”

“Kok bisa sih tertarik masuk kimia murni?”

“Saya pernah jalan-jalan ke kebun orangtua di mana limbah biomassa seperti jerami, jagung, dll itu sangat melimpah. Yang terlintas dipikiran saya waktu itu adalah bagaimana caranya konversi limbah tersebut menjadi material yang punya nilai jual tinggi. Jadi, saya pikir kimia murni adalah background ilmu yang tepat. ” Saya menjawab sesuai apa yang saya tulis di essay personal statement.

Padahal Kimia adalah pilihan ketiga setelah Teknik Arsitektur dan Y. Tapi saya tidak mention itu dalam jawaban agar tidak jadi boomerang 😆. Pilihan ketiga tetaplah pilihan dan point nya adalah kenapa tertarik terhadap pilihan itu. Yang terpenting adalah reasonnya juga relevant sama apa yang direncanakan.

“Oh iya.. Sekarang Wahda lagi di mana? “

“Saya sedang berada di penginapan, Bu. Agar gak terulang hal yang gak diinginkan seperti tahap 2 kemarin 😅. ”

“Memang ada kejadian apa Wahda kemarin? “

“Mati listrik pas saya baru menjawab satu soal dan akhirnya koneksi internet tidak stabil. Beruntung saya bisa numpang di kantor meskipun panas-panasan di jalan menuju kantor. “

“Alhamdulillaah ya Wahda meskipun banyak tantangannya akhirnya lulus juga sampai tahap ini. “

“Iyaa.. Alhamdulillaah, Bu.”

“Semoga kamu lulus juga sampai tahap akhir ya Wahda. Saya udah cukup, pak Hussein ada lagi? “

“Tapi menginapnya masih di kota yang sama dengan rumah kan? “

“Iya, masiih Pak. “

“Berapa lama Wahdah dari rumah? “

“Sekitar 30-40 menit, Pak. Karena saya juga berkendara agak slow. “

“Lumayan jauh juga yaa. Saya juga sudah cukup. Semoga berhasil ya Wahdah. “

“Aamiin. Terimakasih banyak Bapak Ibu. “

“Silakan leave yaa Wahdah. “

Ucapan Terimakasih

From the bottom of my heart, I thank to my parents and brother, supervisor (Sunardi & Rodiansono Sensei), Kak Zi, Rey (RN), miss Ami (Bu Utami), kak Niswi, kak Dina, mas Herry, miss Anik, Kak Adit, Kak Yasmine, Mas Helmi, Mas Yulio, Mba Rifa, Mba Afifah, dan Salsa who supported/ has supported me. Di tengah kesibukan, makasih udah luangin waktunya buat nemenin belajar IELTS, proofreading dan kasih feedbacks to my scholarship documents (personal history/ CV/ personal statement/ contribution essay), nemenin mock interview dan kasih feedbacks padahal sibuk kuliah, ngasih feedbacks di zoom dan voice note, dan atau ngajakin latihan mock interview bareng di gmeet dan VC sampai larut malam biar makin lancar dan siap (and as the nectar of our patience, pray, and preparation, Allah give it for us 👊). Terimakasih atas waktu yang diluangkan dan ketulusan yang telah diberikan. I owe you.

And last but not least, for all of my support systems, thank you for your existence in the ups and downs of my journey. Thank you for being my friends for who I am and caring for my well-being. Thank you for loving me while I repair myself and level up my personality. Your existence is enough and means a lot. I hope you get through your battles as well.

Some people matter. What I have is an immeasurable and valuable lesson from all of that. Alhamdulillaah ‘ala kulli haal.

Thank you. 🙂 Best wishes especially for your dream, love, and life. Semangat !

Published by Nurwahdah

Chemist & climate-minded entrepreneur-in-training | A student in MSc Biobased Sciences (Biorefinery & Conversion) + Entrepreneurship at WUR (NL). Builder in the circular bio-economy, mentor for studying abroad, and avid learn-by-doing fan. Open to collabs!

6 thoughts on “Pengalaman Wawancara [Lulus] One Shot Beasiswa LPDP 2021 Tujuan Kampus Luar Negeri

Leave a comment

Terry Perdanawati

Catatan Seorang Perempuan Jawa di Amerika

Engineering, Science & Technology Resources Portal

Where Teaching and Learning in a Networked World...

Science, Technology and Innovation - Time - Data - World @ Rodrigo Nunes Cal

Its content is always essential to the world progress. The human lifespan needs to increase very significantly and quickly always by very efficient scientific projects and research, for example

Kisah Kasih

Karena Allah Selalu Percaya Padamu

Learn Anytime Anywhere

An Atomic Space For Sharing and Learning

Discover WordPress

A daily selection of the best content published on WordPress, collected for you by humans who love to read.