
Curah hujan tinggi di pegunungan meratus terjadi selama beberapa hari di pertengahan Januari 2021. Hujan juga sedang deras-derasnya sejak Rabu sore hari 16.00 WITA di daerah Kec. Hantakan dan Batu Benawa.
yuk bantu korban dengan menyebarkan atau berdonasi di https://kitabisa.com/campaign/korbanbanjirbandanghankatankalselpulih
Rabu malam, Sekitar jam 22.00 WITA, warga Hantakan dibuat panik oleh gemuruh air yang seolah mengamuk. Banjir bandang kali ini merupakan banjir terbesar yang pernah terjadi sepanjang masa, menyebabkan kerusakan yang sangat parah tidak hanya di Desa Alat seperti tahun 2013 silam, tetapi juga banyak Desa lainnya di Hulu Sungai Tengah (HST) seperti desa Arangi, Hantakan, Bulayak, Batu Tunggal, Batu Hayam, Waki, Haliau, Pagat dan Batu Benawa.
Total 148 Buah Rumah Hancur Tak Bersisa Disapu Banjir Bandang
Banyak rumah di desa tersebut luluh lantak tak bersisa terutama yang berada dekat Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tanah perumahannya ikut longsor dan kini menjadi sungai.

38 buah rumah dan 1 buah Musholla di desa Alat tersapu banjir bandang, tidak bersisa bahkan tanahnya tidak bisa dibangun rumah kembali karena tanggal terbawa arus menjadi sungai yang melebar.


“Jam 21.30 WITA kaum mengumumkan di Langgar kalau air mulai pasang, suara gesekan bebatuan berangsur. Beruntung terjadi malam hari sehingga kami bisa menyelamatkan keluarga lari ke gunung (dataran tinggi). Seketika sampai di pengungsian, air bergelombang besar datang tiba-tiba dan menyapu habis rumah di pinggiran sungai.” Ungkap ibu-ibu salah satu warga desa Alat Muara yang sedang makan mie instan dicampur nasi pada Kamis pagi.
Sapnah dan keluarga, warga desa Alat Seberang Ujung, terpaksa mengungsi tidur di pondok ladang dataran tinggi miliknya sebelum berutang membeli terpal untuk membangun tenda darurat.
19 buah rumah di Hantakan hanya tertinggal pondasi dan sisnya porak poranda. Kerusakan terparah berada di sepanjang jalan Brigjen H. Hasan Baseri kawasan Manggasang, Hantakan pasar, sebelum kantor Camat, dan perbatasan Desa Hantakan dan Barabatung yang rumahnya banyak hancur sebagian. Sebagian warga sempat menyelamatkan diri dan keluarga sebelum air menggulung dan sebagian warga juga berhasil mengamankan liabilitas mereka seperti mobil dan motor ke halaman kantor camat yang datarannya lebih tinggi. Sebagian warga berdiam diri pasrah di rumah sambil berdoa semoga selamat sebab sudah terkepung banjir dan arus di halaman rumah sangat deras.

39 buah rumah di pemukiman Bulayak dan Batu Tunggal juga hancur tak bersisa bahkan tidak meninggalkan pondasi dihantam air yang begitu dahsyat karena pemukiman terletak bersebelahan dataran tinggi Manggasang dan berdampingan aliran sungai Manggasang. SDN Bulayak pun ikut porak poranda terbongkar.
“Kami tidak mengira airnya seperti ini karena seumur umur paling banjir sampai kolong rumah. Tapi Alhamdulillah kami sempat melarikan diri ke atas dataran tinggi” jelas Sahrani yang kehilangan rumahnya.
Di desa Waki, tepat jam 12.00 WITA, banjir bandang menerjang perkampungan warga yang tidak jauh dari Daerah Aliran Sungai tempat wisata air Riam Banjandik, Pulau Mas, dan Baruh Bunga. Sebanyak 40 buah rumah di desa Waki hilang tertinggal pasak ulin dan lainnya rusak-rusak.
“Kami menyelamatkan diri naik lewat bubungan, melompat dari atap ke atap sampai ke rumah warga yang bertingkat, saat itu air di halaman sudah sangat deras dan di dalam rumah sudah mencapai dada. Kalau kedalaman banjir sedikit lagi sampai ke atap” cerita pak Suriansyah ketika berkunjung ke rumah beliau pada hari Rabu 20 Januari.


Begitu juga dengan desa-desa lainnya seperi Haliau, Pagat, dan Batu Benawa, rumah-rumah terendam banjir dan sebagin dapur hancur. Di kawasan pasar Pagar, air di dalam rumah mencapai ketinggian sedada orang dewasa. Puncak banjir bandang di kawasan Batu Benawa terjadi pada tengah malam pukul 02.00 WITA.
Banjir bandang tersebut berlangsung sekitar satu jam dan kemudian air berangsur surut. Banjir tersebut mengalir cepat menuju pusat kota Barabai dan tergenang selama beberapa hari sejak Kamis pagi.
Kamis dan Jum’at, warga dibuat was-was akan datangnya banjir bandang susulan perihal hujan yang tak henti selama dua hari tersebut. Pada Kamis dan Jum’at pagi banjir susulan melanda, namun tidak sedalam banjir bandang pada Rabu tengah malam.
Ratusan Rumah Tak Layak Huni
Pasca banjir, banyak rumah yang tak layak huni karena bagian-bagian rumah rusak diterjang banjir seperti bagian depan, dapur, dinding, ataupun hanya tertinggal bagian atap.



Hampir Semua Rumah Lainnya Berlumpur Hingga Selutut dan Kerusakan Perabotan Rumah Tangga


3 Mayat Ditemukan dan 3 Lainnya Masih Belum
Bapa, nama panggilan salah satu warga desa Hantakan, hilang terbawa arus deras bersama rumahnya. Saat air belum dalam-dalamnya, beliau dan warga sekitar sempat mengungsi ke musholla Pondok Pesantren Ar-Raudah. Beliau sempat mengantarkan anaknya dan setelah itu bergegas kembali ke rumah. Pada saat itu juga, air dengan debit sangat tinggi menghantam dan melahap habis rumah beliau.
Pencarian orang hilang dan evakuasi dilakukan warga Hantakan sejak Kamis pagi. Mayat seorang laki-laki (Farid Mazidi) ditemukan di tumpukan robohan rumah yang dipenuhi lumpur. Alm. sempat menyelamatkan diri bersama isteri dan anak sebelum air melonjak dahsyat. Namun naas saat kembali memasuki rumah, maut menghampiri. Alm dikebumikan pada Jum’at siang 10.00 WITA di desa Bulayak.
Jum’at 10.00 WITA, warga menemukan dua mayat laki-laki di desa Hantakan. Berdasarkan identifikasi visual wajah mayat, identitas kedua mayat tersebut (Anang dan Ubi) adalah warga desa Timan yang sedang bekerja membangun rumah di desa Rantau Parupuk (salah satu perkampungan di pegungungan meratus). Pada saat itu juga, mayat dipulangkan ke rumah keluarga masing-masing. Keluarga korban tidak menduga banjir bandang juga melanda tempat korban bekerja.
Berdasarkan hal itu, perkampungan warga di pengunungan meratus yang sangat sulit diakses juga mengalami kerusakan parah. Berdasarkan informasi warga Rantau Parupuk, sepasang suami isteri ada yang terbawa arus.
Berdasarkan hasil rapat warga dan pihak keluarga, pencarian dihentikan pada Senin. Hingga saat ini Bapa dan sepasang suami isteri tersebut belum ditemukan.
Air Sungai Yang Tak Kunjung Jernih
Sudah satu minggu berlalu, namun air sungai yang menjadi sumber air warga tidak kunjung jernih, pekat berlumpur tanah. Biasanya tidak lebih dari dua hari setelah banjir biasa ataupun bandang, air akan kembali jernih. Berdasarkan informasi warga yang berasal dari pemukiman gunung meratus, gunung Pagaran dan Uwang longsor dan terbendung.
Sejak Sabtu, Menuju Kembali Pulih
Hingga Jum’at, situasi kec. Hantakan lumpuh total, semua akses jalan menuju kec. Hantakan terputus karena masih ada jalan yang tergenang banjir. Selain itu, listrik padam dan tidak ada layanan jaringan.
Bantuan logistik seperti beras, mie instan, telur, air minum, dan pakain dari kab. Tetangga (HSU, HSS, Rantau, Tanjung, Balangan) tiba sejak Sabtu. Bantuan logistik juga ada yang berasal dari Moara Koman, Kalimantan Timur. Bantuan logistik ditransfer oleh warga Hantakan ke desa-desa yang susah terakses seperti Arangi, Batu Hayam, dan Desa yang jauh di pedalaman menggunakan kendaraan trail karena jalan beraspal yang ambruk.

Sejak Sabtu, kondisi Kec. Hantakan dan Batu Benawa mulai pulih merangkak. Meskipun begitu, tetap meninggalkan duka mendalam bagi warga yang kehilangan rumah, tanah, dan keluarganya. Oleh karena itu, yuk kita sama-sama peduli dan berbagi untuk meringankan beban mereka selama fase pemulihan melalui donasi di kitabisa.com (link tertera). https://kitabisa.com/campaign/korbanbanjirbandanghankatankalselpulih
Kamu juga bisa membantu menyebarkan link kebaikan tersebut kepada keluarga dan teman-temanmu ya. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya dan Allah balas kebaikan kita hari ini dengan berkah berlimpah kasih. Aamiin Allaahumma Aamiin 🙂

2 thoughts on “Banjir Bandang Terjang HST KALSEL: 148 Buah Rumah Hancur Tak Bersisa dan Telan Korban Jiwa”